Pengalaman Terbang dengan Thai Airways Rute Kopenhagen-Bangkok

Thursday, 19 October 2017



Di tahun 2017, Thai Airways dinobatkan sebagai maskapai dengan katering dan kelas Ekonomi terbaik. Bertepatan dengan jadwal kepulangan saya di Indonesia, Brian akhirnya memesankan tiket Thai Airways yang memang saat itu adalah yang paling murah dan paling cepat. Belum pernah naik maskapai asal Thailand ini, akhirnya saya hepi-hepi saya dibelikan tiket tersebut.

Rute penerbangan kali ini akan dilayani dari Kopenhagen ke Jakarta. Tapi berhubung saya tidak terlalu banyak mengambil gambar saat transit di Bangkok, jadinya saya hanya merangkum pengalaman naik Boeing 777-300 nonstop selama nyaris 11 jam hingga Bangkok saja. Tapi secara keseluruhan, pengalaman naik penerbangan lanjutan menuju Jakarta, pesawat dan pelayanannya pun sama.

Kamu Masak, Saya Minum Wine

Thursday, 12 October 2017



Hari ini kencan ketiga saya dengan Bunny. Setelah sebelumnya doi dipaksa harus masak makan malam, hari ini saya juga sedikit memaksa Bunny untuk masak sesuatu kalau ingin rumahnya dikunjungi lagi.

Sebenarnya saya sudah sedikit paham level masak Bunny. Karena tidak suka masak, sekalinya masak, lama sekali! Di kencan kedua lalu, Bunny dengan rela membuka kembali buku masakan Jamie Oliver yang katanya sudah bertahun-tahun tidak dibuka. Untuk spaghetti bolognese yang simpelnya bukan main, doi membutuhkan waktu dua jam! Padahal kalau saya yang masak, 15 menit kelar!

"Kamu yakin mau masak lagi?" tanya saya sekali lagi masih tidak yakin.

"Iya. I love cooking you something."

"Ah males, it would be long again."

"I'll try to find something simple," katanya masih niat.

Selamatkan Kantong dan Lingkungan dengan AC Daikin Hemat Energi

Wednesday, 11 October 2017


Saat menginjakkan kaki dan keluar dari Soekarno Hatta sebulan lalu, hidung saya rasanya panas. Hawa sesak langsung menyeru saat saya menghirup udara Jakarta. Welcome back to Indonesia! Setelah setahun kembali dari Denmark, saya rasanya tidak sabar untuk segera cepat-cepat meninggalkan Jakarta lalu berlabuh ke kasur di Palembang.

Mungkin karena sudah terbiasa dengan suhu Denmark yang paling tinggi hanya 25° Celcius, pulang ke rumah, hidung saya lagi-lagi panas. Saat masuk ruangan pun, perasaan sesak rasanya belum juga hilang. Bahkan kamar mandi yang harusnya sejuk, entah kenapa jadi pengap dan panas sekali.

Kesimpulan saya, Palembang semakin panas dari tahun ke tahun. Belum lagi ketika menyadari rumah orang tua saya sudah diapit oleh perumahan baru yang semakin banyak. Pepohonan dan rerumputan yang dulunya tumbuh subur di pekarangan rumah, sudah habis kena semen ibu saya. Aduh, padahal kalau matahari sedang terik-teriknya, suhu semen yang terpapar sinar bisa meningkat tajam.

Belajar dari Dunia Bagaimana Menumbuhkan Antusiasme Membaca di Sekolah Dasar

Sunday, 8 October 2017



Sejak tahun 1965, UNESCO mendeklarasikan 8 September sebagai Hari Literasi Nasional. Setiap tanggal itu juga, para pemerintah di Indonesia tak lupa untuk selalu mengingatkan bahwa minat baca di negeri ini masih kalah dibandingkan dengan negara tetangga, lalu menghimbau untuk selalu meningkatkan angka tersebut setiap tahun.

Di tahun 2011, UNESCO pernah mendata bahwa minat baca paling rendah di negara ASEAN ditempati oleh Indonesia dengan indeks 0,001. Artinya dari 1000 penduduk Indonesia, hanya 1 orang yang senang membaca. Sebagai perbandingan, Singapura memiliki indeks 0,45. Data ini diambil sejak enam tahun lalu, namun selalu dijadikan acuan untuk menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara dengan minat baca terendah hingga detik ini.

Namun apakah betul bahwa minat baca orang Indonesia sampai tahun 2017 masih serendah enam tahun lalu? Dengan begitu banyaknya strategi yang dikerahkan pemerintah dan masyarakat umum untuk mendongkrak antusiasme membaca setiap tahun, rasanya sangat mustahil jika Indonesia terus-terusan dikatakan memiliki minat baca yang rendah.

Meminta Izin Orang Tua ke Luar Negeri

Tuesday, 3 October 2017



Saya banyak menerima curhatan dari para pembaca, tentang sikap orang tua yang menentang habis-habisan keinginan mereka untuk hijrah ke luar negeri dan jadi au pair. Tidak ada yang salah dengan luar negerinya, yang dianggap salah adalah tujuan sebagai au pair.

Tidak dipungkiri, au pair memang belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Belum lagi saat tahu kalau au pair tugasnya membersihkan rumah dan mengurus anak. Wah, posisi au pair betul-betul akan disamakan dengan pembantu.

Meskipun sudah dua kali jadi au pair dan tiga tahun tinggal di luar negeri, saya juga tetap menghadapi kendala luar biasa, terutama soal restu orang tua. Karena ayah saya sudah tidak ada, jadi persoalan izin tentunya harus dibicarakan ke ibu. Jujur saja, ibu saya termasuk orang tua yang cukup konservatif dan tidak terlalu berharap saya hijrah ke luar negeri.

Untuk sampai diizinkan ke luar negeri pun, saya sampai harus tangis-tangisan dan kena hinaan dulu. Hehe. Saat mengurus dokumen jadi au pair ke Belgia, ibu saya masih membantu membiayai urusan visa di Jakarta. Tapi saat akan ke Denmark, saya sengaja untuk tidak meminta bantuan sepeser pun karena jelas tahu tidak akan diperbolehkan.