Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Mengatur Keuangan Au Pair

Ada yang tanya ke saya, bagaimana cara mengelola keuangan au pair setiap bulan. Apakah memungkinkan untuk mengirim uang ke Indonesia atau sekedar menyisihkan untuk tabungan? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Satu, kembali lagi ke gaya hidup. Dua, tergantung seberapa konsistennya kamu mengelola pocket money . Sudah pernah saya bahas, kalau uang saku au pair sebenarnya cukup untuk memenuhi personal expenses kita selama tinggal di Eropa. Tiap negara sudah mengatur berapa besar uang saku yang harus diberikan ke au pair berdasarkan living cost di negara tersebut. Tapi, tentu saja tergantung seberapa modest atau borosnya kamu terhadap pengeluaran. Mau gaji sebesar apapun, kalau ingin menuruti gaya hidup glamor dan mewah, sudah pasti tidak akan pernah cukup. Kalau kamu juga tidak pandai mengatur keuangan, menyimpan 200 atau 300 Krona per bulan saja akan terasa sangat sulit.

10 Tipe Host Family yang Mesti Kamu Pertimbangkan Kembali

Cari host family yang baik dan sesuai harapan itu tidak mudah. Saya mencari hingga 5 bulan baru akhirnya dipertemukan dengan keluarga Belgia keturunan Maroko via agensi. But, bad thing happened. Belum full satu tahun kontrak, saya sudah angkat kaki dari rumah keluarga tersebut. Saya tahu, tidak ada keluarga yang sempurna memang. Begitu pula dengan kita, belum tentu sesuai dengan ekspektasi si keluarga angkat. Namun, tetaplah waspada dan pintar saat mencari keluarga. Saya paham, kamu juga senaif saya dulu yang ingin sesegera mungkin merasakan udara sejuk Eropa. Ingin secepatnya jalan-jalan ke negara tetangga dan ingin secepatnya juga meninggalkan Indonesia. Karena muak mungkin? Namun tetaplah realistis dan hati-hati. Meskipun tidak pernah berharap akan terjadi, tapi kadang ada saja yang membuat kita tidak cocok dengan keluarga angkat. Jadi daripada kamu bermasalah di negara orang nantinya, sebaiknya baca tipe-tipe keluarga yang menurut saya red flag dan mesti kamu pertimban

Haruskah Bule?

Minggu lalu seorang teman au pair cerita ke saya tentang teman-teman Indonesianya yang super nosy . Intinya mereka iri karena si teman saya ini punya pacar bule, bisa ke Eropa karena program au pair, dan Instagramnya dipenuhi foto-foto keren di banyak negara. Pokoknya tipe-tipe sohib bermuka dua yang iri saat temannya sukses lebih dulu. Kalau ingat cerita si teman au pair ini, saya jadi bersyukur karena teman-teman saya di Palembang tidak ada satu pun yang nosy begitu. Mereka rata-rata sudah menikah tak lama dari lulus kuliah dan fokus dengan kehidupan sendiri-sendiri. Pun yang belum menikah, kebanyakan sudah punya pacar. Apa yang mesti dicemburui dari saya yang bisa berkencan dengan cowok bule , misalnya? Ngomong-ngomong soal bule, saya sama sekali tidak pernah merasa lucky juga bisa berkencan dengan para cowok kulit putih ini. I have no option, but I have a chance. That's all!