Langsung ke konten utama

Postingan

Persiapan Ikut Tes Pramugari di Oslo

Estimasi Waktu Baca:
Kali ini saya akan sedikit cerita pengalaman yang berbeda saat tinggal di Eropa. Dari zaman lulus SMA dulu, saya memang sudah penasaran dan ingin coba ikut tes pramugari. Tapi belum kesampaian karena sibuk daftar masuk kuliah. Saat kuliah, tertarik ikut tes Lion Air, Garuda Indonesia, dan AirAsia di Palembang, tapi tidak percaya diri karena muka saya saat itu masih jerawatan. Apalagi katanya maskapai lokal sangat  strict dengan penampilan sampai tidak boleh ada bekas luka sedikit pun. Keinginan ingin ikut tes ternyata masih ada sampai lulus kuliah. Tapi sumpah, saya tetap tidak berani ikut tes pramugari maskapai lokal karena sudah minder duluan. Dari masalah berat badan sampai bekas luka yang saat itu masih nampak. Ingin ikut tes maskapai internasional, tapi semuanya selalu diadakan di Jakarta. Jujur saja, saya malas terbang mahal-mahal dari Palembang ke Jakarta hanya untuk Walked-in Interview . Ya kali langsung lolos. Kalau tidak, rugi di ongkos. Pindah ke Eropa, entah ba...

6 Hal yang Saya Rindukan Sejak Menjadi Au Pair

Estimasi Waktu Baca:
Berkesempatan tinggal di luar negeri adalah salah satu pengalaman transformatif dan tak terlupakan seumur hidup. Bisa karena melanjutkan sekolah, mendapatkan pekerjaan di perusahaan asing, ikut suami migrasi, atau pun jadi au pair. Namun apapun alasannya, semua orang mengakui bahwa hijrah ke luar negeri itu tidak mudah . Kamu harus berlatih untuk adaptasi dengan budaya baru, memaksa diri untuk belajar bahasa lokal, berpikiran lebih terbuka dengan perbedaan, sampai memaklumi rasa kesepian. Saya sendiri merasa beruntung selama hampir 4 tahun ini jadi au pair dan bisa tinggal di 3 negara berbeda di Eropa. Tapi jadi au pair di Eropa tentu saja tidak selamanya bahagia. Di Eropa Utara, kebanyakan orang lokalnya terkenal tertutup dan tidak terlalu membuka kesempatan untuk berteman dengan orang baru. Jadi pelajar atau ikut suami masih lebih baik, meskipun sama-sama homesick , namun setidaknya setiap hari bertemu teman di kelas ataupun ada yang bisa diajak mengobrol di rumah. Jadi au pai...

Dari Kencan Jadi Teman

Estimasi Waktu Baca:
Kalau kamu berpikir fungsi  online dating di Eropa hanya untuk cari pacar , gebetan, atau teman tidur, then think again . Seorang kenalan saya malah mendapatkan pekerjaan dari cowok yang dikenalnya lewat OK Cupid. Saya, ketimbang mencari pacar, malah lebih memanfaatkan online dating sebagai wadah mencari teman jalan. Dari awal main OK Cupid dan Tinder, saya memang sudah tidak ada niat mencari pasangan. Mengapa, karena pertama kali menggunakan OK Cupid saat itu posisinya saya sedang di Belgia. Beberapa bulan kemudian, saya sadar harus pulang ke Indonesia. Jadi daripada capek-capek memikirkan para si bule Belgia itu dan memutuskan LDR, saya lebih memilih untuk mencari pengalaman jalan saja dengan mereka. Cari teman via online dating sebetulnya mengkhinati tujuan utama online dating itu sendiri. But, actually it worked! 

Mengurus Visa Kunjungan Keluarga (Au Pair) ke Norwegia

Estimasi Waktu Baca:
Salah satu tujuan saya jadi au pair lagi di Norwegia adalah berharap bisa mengundang keluarga datang ke Eropa suatu hari nanti. Saya sudah sering jalan-jalan di Eropa, saatnya berbagi kebahagiaan dengan keluarga di rumah. Sekembalinya ke Norwegia, saya pun mantap mengundang ibu atau adik saya ke Oslo sekalian jalan-jalan ke beberapa negara Schengen. Niatnya mereka ingin berkunjung Januari tahun depan karena lagi low season . Tapi saya paham bagaimana Eropa Utara saat musim dingin , akhirnya liburan dimajukan ke musim gugur tahun ini. Hanya adik saya yang akan datang karena bertepatan dengan libur sekolahnya. Ibu saya enggan karena sedang sibuk dan takut kalau harus pulang pergi sendirian. Maklum, ibu saya memang tidak bisa bahasa Inggris sama sekali dan ditakutkan akan ada masalah di bandara nantinya. Adik saya sekarang tinggal dan sedang belajar di Cina, jadi starting point akan dimulai dari Shanghai Pudong. Karena sudah berniat mengundang keluarga ke Eropa, saya yang ...

Mengasuh Anak-anak Keluarga Eropa

Estimasi Waktu Baca:
If people think, I want to be an au pair (this long) because I love kids, that's totally wrong!  Though, I am so good at faking it.  Lasse, host dad Norwegia, menyapa saya dengan muka lelah di pagi yang cerah. Dia mengadu kalau si kakak tak henti-hentinya bangun dan menangis sejak jam 2 pagi. Tak jelas apa sebabnya, tapi si bapak ini harus bolak-balik menenangkan si anak. " Too much work to do also. I am so tired ," keluhnya sambil tetap tersenyum. Tidak sekali ini saja si bapak mengeluh tentang gaya hidupnya yang berubah sejak punya anak. Lasse memang jujur dalam banyak hal dan tidak segan menceritakannya ke orang baru, seperti saya. Dari foto lamanya yang saya lihat, si bapak dulunya sangat menjaga bentuk badan dengan cara terus berolahraga. " Now I even have no time to exercise ," keluhnya lagi di waktu yang lain. " I am actually exhausted. I'd rather watch a movie, than run. But it's obligatory! Too much fatty food last weekend...

Tinggal di Norwegia, Belajar Norsk

Estimasi Waktu Baca:
Bahasa Norwegia ( Norsk ) adalah bahasa resmi yang dipakai di Norwegia dengan dua penulisan yang berbeda, Bokmål ( Book language ) dan Nynorsk ( New Norwegian ). Dua-duanya mirip secara linguistik namun pada dasarnya lebih dianggap sebagai "dialek dalam tulisan". Bokmål diajarkan dan dipakai oleh 90% populasi Norwegia, sementara Nynorsk hanya dipakai oleh 10% penduduk Norwegia di bagian barat. Sebetulnya bahasa Norwegia bukan bahasa baru bagi saya. Layaknya bahasa Nordik yang mirip-mirip, pola tatabahasa dan penulisannya seragam dengan bahasa Denmark dan bahasa Swedia. Saya sempat belajar bahasa Denmark sampai Modul 4 dan beruntungnya hal tersebut cukup membantu saat awal berkenalan dengan host kids . Tapi meskipun penulisan bahasa Denmark dan Norwegia sangat mirip, jangan bayangkan pelafalannya. Norsk terdengar lebih masuk akal dan cocok bagi lidah orang Indonesia. Kalau bahasa Swedia dan Norwegia intonasinya seperti orang bernyanyi, bahasa Denmark lebih terdengar...

Mitos dan Fakta Au Pair di Skandinavia

Estimasi Waktu Baca:
Sebenarnya saya tidak berminat jadi au pair di Denmark sebelumnya. Tujuan kedua saya setelah Belgia adalah Prancis, negara kuliner, seni, dan budaya. Saya memang suka seni dan sempat belajar bahasa Prancis, makanya sayang sekali kalau kemampuan bahasa saya tidak sempat terasah. Gagal di Prancis, saya mencoba peruntungan di negara Skandinavia. Waktu itu sebetulnya saya ingin ke Swedia, tapi malah mendapatkan keluarga angkat di Denmark . Jujur saja, saya tidak pernah tahu bagaimana membaca Copenhagen  dalam bahasa Inggris dengan benar sebelum mengajukan visa ke VFS Global di Jakarta. Saat itu terpampang layar besar di depan meja customer service yang memperkenalkan kota Kopenhagen dan alam Denmark yang tidak pernah saya tahu sebelumnya. Saya juga baru tahu kalau Kopenhagen mirip Amsterdam yang terdapat kanal di tengah kota. Sebelum wawancara di kedubes pun, saya bingung apa trademark negara Denmark dan apa yang menarik dari tempat ini. Saya sampai harus s earching dulu tent...