Langsung ke konten utama

Postingan

I Made It: Dari Au Pair Sampai WISUDA S2!!!

Estimasi Waktu Baca:
LinkedIn is interesting. Gambar di bawah adalah hasil berbagi yang lewat di feed LinkedIn saya tentang jalan karir seseorang mulai dari awal sekolah. Sangat apik menggambarkan tentang pandangan naif kita yang ingin semuanya berjalan mulus: lulus kuliah kalau bisa langsung cari kerja, posisi bagus, kerja yang rajin, lalu dipromosikan jadi manager. Tapi faktanya, tidak semua orang terlahir jadi pekerja kantoran dengan tangga karir demikian. Ada yang setelah lulus kuliah malah pindah bidang dan mengulang kuliah lagi. Ada juga yang ganti haluan dan sadar bahwa jadi pengusaha lebih menantang. Ada juga yang masih kesulitan menemukan apa yang mereka mau sampai usia di usia 30-an. Selalu ada cerita dan usaha yang berbeda dari semua orang untuk menuju suatu titik. Inilah cerita yang ingin saya kenang dan bagikan kembali dari pertengahan 2013 sampai sekarang, hasil proses yang panjang hingga mencapai satu titik besar. Selulus S1, dibandingkan cari kerja di bimbel, kejar PNS, ataupun lanjut...

Welcoming My Baby

Estimasi Waktu Baca:
...and it's June again! Sebetulnya sudah dari seminggu lalu ingin menulis dan mencurahkan kabar bahagia ini. Tapi apa daya, saya sudah cukup muak duduk di depan laptop hampir tiap hari. Baru saat ini punya waktu santai untuk menulis lagi dan berbagi cerita kalau tugas akhir saya sudah rampung. 🎉 Cerita soal pengerjaan tesis, setelah deadline ditunda 11 hari, saya (dan semua teman sekelas) ujungnya tetap mengerjakan draf akhir di mepet sisa waktu pengumpulan. Tipikal! Saya memutuskan untuk mengerjakan tesis sendiri ketimbang dengan grup karena jenuh terus-terusan kerja kelompok dari semester satu. Untuk program studi saya, pengerjaan tesis boleh dikerjakan secara berkelompok maksimal 3 orang dan bedanya hanya di halaman. Karena semester ini kami menulis tesis pendek (30 ECTS), jumlah maksimal untuk 1 orang hanya 40-60 halaman dan maksimal 80 halaman bagi yang mengerjakan berkelompok. Jadi tidak ada perlombaan ala kuliah di Indonesia, semakin tebal semakin bagus. Jumlah halaman ini...

The Art of Multitasking: Antara Tesis, Kerja, dan Kursus Bahasa

Estimasi Waktu Baca:
Finally , bisa duduk mantap dan mengisi konten di blog yang sekarang hanya bisa terisi satu bulan sekali because I am seriously dying! Dipikir semester 4 akan terasa lebih indah dan santai dari tiga sebelumnya, namun ternyata saya salah. Semester ini mood saya ibarat roller coaster dengan tekanan dari kanan-kiri-atas-bawah. Tekanan hidup ini tak hanya karena was-was memikirkan study permit ditolak , namun perjuangan untuk lulus kuliah ternyata ombaknya luar biasa! Sejauh ini April adalah bulan tergila yang pernah saya lalui. Bersyukur sudah berakhir dan saya masih bisa melaluinya dengan sehat walafiat.  Sedikit cerita soal pengerjaan tesis, tenggat waktu yang diberikan untuk pengumpulan draf akhir adalah pertengahan bulan Mei. Sebelumnya, dua supervisor saya memang sudah menyarankan untuk mengumpulkan draf pertama ke mereka setidaknya 2-3 minggu sebelum tenggat waktu. Artinya, di minggu akhir April draf pertama sudah harus selesai. Namun yang jadi masalah, untuk menuju tahap se...

Sebuah Privilese: Kursus Bahasa Gratis

Estimasi Waktu Baca:
Menghitung privilese, tak harus selalu berhubungan dengan harta kekayaan orang tua ataupun networking orang dalam. Jadi au pair pun juga banyak perks dan privilesenya. Tak perlu jadi Raffi Ahmad dulu untuk bisa diajak ski ke Zermatt . Tak perlu jadi selebgram dulu untuk bisa mengunjungi kebun anggur di Eropa Selatan sambil berpose minum wine ala model. Juga tak perlu jadi anak sultan dulu untuk punya kamar luas bak hotel bintang lima. Kalau kebetulan dapat host family kaya raya, itulah beberapa dari banyak privilese yang bisa au pair dapatkan! Tapi saya tak ingin membahas soal enaknya jadi au pair karena kemewahan tersebut. Banyak juga au pair yang tinggal dengan keluarga pas-pasan dan tak pernah mencicipi kehidupan mentereng, tapi tetap bahagia. Salah satu hal yang membuat saya bahagia selama jadi au pair justru adalah bisa kursus bahasa gratis! Bagi saya, jadi au pair itu tak selalu menyangkut jaga anak, beres-beres rumah, jalan-jalan keliling Eropa, have fun dengan geng teman...

Permit Ditolak, Pulang ke Indonesia!

Estimasi Waktu Baca:
February was the worst month ever di pengawal 2021! Dari mulai tesis, proyek startup, kerja, kursus Norwegia, sampai terkena job offer anxiety , semuanya menumpuk jadi satu! Setelah sukses membuat mood naik turun, perasaan saya dibuat kalut lagi dengan status izin tinggal di Norwegia. Karena banyak hal yang harus dipikirkan inilah, saya memutuskan menarik diri dulu dari semua update di Instagram & blog. Biasanya cuap-cuap tak henti berbagi cerita, tapi kali ini ada banyak hal lain yang harus diprioritaskan.  Yang pertama, karena job offer anxiety . Awal Februari, saya menerima email dari salah satu perusahaan bahwa saya berhasil maju ke tahap wawancara. Terlalu sering menerima email penolakan, makanya ketika dapat email positif seperti ini — apalagi dari perusahaan besar, rasanya senang sekali. Super girang juga karena posisinya bisa dibilang adalah dream job . Satu minggu sebelum wawancara saya sudah riset semua tentang perusahaan tersebut dan membuat sendiri poin yang k...

Belajar Fesyen dari Ibu-ibu Eropa

Estimasi Waktu Baca:
Meskipun tak pernah merasa jadi cewek stylish , namun saya termasuk orang yang cukup peduli dengan penampilan. Ke kampus, ke mol, kondangan, sebisa mungkin pakaian disesuaikan dengan acara. Gaya saya zaman sekolah dan kuliah dulu bisa dikatakan semi-vintage dan sedikit terpengaruh preppy look ala drama Asia. Kebanyakkan isi lemari hasil perburuan dari pasar pakaian bekas imporan Asia Timur yang menurut saya, modelnya lebih unik dan  retro . Sepatu yang saya pakai juga bukan dari merek ternama, karena harganya cuma 40-50 ribuan. Seseru itu belanja di Palembang karena 100 ribu Rupiah pun sudah bisa dapat setelan lengkap dari atas sampai bawah! Walaupun, gaya belanja seperti ini cukup sering ditentang oleh ibu saya sendiri. "Kalau Mama, daripada beli barang murahan tapi mudah rusak, lebih baik langsung beli barang mahal tapi awet," kata beliau saat itu. "Ya enak kalau ada uangnya. Bagaimana kalau belum ada, tapi ingin sepatu baru?" kilah saya. "Ya menabung dong!...

My Home, My Rules

Estimasi Waktu Baca:
Mungkin bagi orang awam yang tak tahu regulasi resmi au pair, uang saku €450 di Belgia atau NOK 5900 di Norwegia per bulan itu terlalu sedikit. Jauh dari upah minimum pegawai lainnya yang diwajibkan pemerintah setempat. Tapi mereka tak paham, bahwa uang saku yang diberikan ini adalah upah bersih yang diterima au pair tanpa harus bayar akomodasi dan makan setiap bulannya.  Sekarang, banyak yang ketagihan jadi au pair tidak hanya karena embel-embel pertukaran budaya. Tapi kegirangan, bisa tinggal di luar negeri dengan jaminan dari host family plus dapat gaji. Sebagai orang yang mengundang au pair ke rumah mereka, host family wajib menyediakan fasilitas kamar yang baik dan bahan makanan yang cukup, ditambah dengan uang saku yang sudah ditetapkan pemerintah untuk mencukupi kebutuhan tersier au pair. Sebagai timbal balik, au pair hanya perlu membantu urusan rumah tangga dan menjaga anak dari si keluarga saat dibutuhkan. Win-win solution demi kehidupan yang nyaman antara kedua belah ...