Langsung ke konten utama

Postingan

Kuliah Mandiri di Luar Negeri, Keberuntungan atau Kerja Keras?

Estimasi Waktu Baca:
" Menurut kamu ya, Nin, apakah memungkinkan kuliah di luar negeri pakai biaya sendiri, tanpa bantuan teman, pacar, saudara, atau host family saat lagi pandemi seperti ini? " tanya seorang rekan au pair di akhir tahun 2020 saat kami nongkrong di pusat kota Oslo. Tulisan ini semestinya dirilis lebih awal, ketika cerita hidup saya yang nelangsa sebagai mahasiswi di Norwegia lebih relevan. Pertanyaan tersebut muncul tanpa sebab. Teman saya ini tahu betul bagaimana terpuruknya saya saat menjalani semester dua dengan tertatih karena sempat kehilangan pekerjaan. Di saat genting ini, uang tabungan saya semasa au pair terkuras dan cari kerja lagi juga tak mudah. Keluarga di Indonesia tak bisa banyak membantu secara materi. Pun teman sejawat hanya bisa menolong dari segi moril. Berandai-andai, teman saya tersebut hanya ingin tahu apakah mungkin mantan au pair yang lanjut kuliah mandiri semasa pandemi bisa hidup nyaman? Jika waktu bisa diputar kembali, mungkinkah kemarin saya bisa men...

Au Pair: Dulu dan Sekarang

Estimasi Waktu Baca:
Belum masuk 2022 dan saya baru tahu au pair pun sekitar 9 tahun lalu. Rasanya terlalu cepat membahas apa yang terjadi di dunia peraupairan dari tahun ke tahun dan membandingkannya dengan apa yang terjadi sekarang. Namun yang menarik, sudah banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari satu dekade ini. Bagi yang baru mengikuti blog ini dan belum tahu apa yang saya lakukan di Eropa, bisa mampir ke postingan saya ketika pertama kali mendarat di Belgia . Di tahun 2014, langkah besar saya ke Eropa dimulai dengan menjadi au pair. Yang belum tahu, au pair adalah program pertukaran budaya dimana kita  —  anak muda di bawah usia 30 tahun  —  bisa tinggal dengan keluarga angkat ( host family ) di luar negeri dan menghasilkan uang dari membantu mengurus anak serta bersih-bersih di rumah mereka. Selain dapat uang saku, kita juga difasilitasi kamar pribadi, makanan, serta dibayari kursus bahasa oleh keluarga tersebut. We definitely do NOT live for free karena kita b...

Hobinya Imigran: Membandingkan!

Estimasi Waktu Baca:
Awal bulan ini saya lagi-lagi mengunjungi Bergen, kota terbesar di Norwegia Barat, untuk kesekian kalinya. Banyak yang heran mengapa kota ini lagi. Apa yang spesial? Apalagi mengingat baru bulan lalu saya mengunjungi Bergen untuk weekend gateaway .  Dibandingkan Oslo, Bergen menurut saya jauh lebih indah dan menarik - meskipun sama-sama  touristy . Namun kedatangan saya kali ini bukan dalam rangka menjelajah Bergen, tapi mengunjungi teman lama yang sudah saya kenal dari 5 tahun lalu di Denmark. Teman saya yang campuran Denmark-Prancis ini sedang menempuh S3-nya di Universitas Bergen (UiB). Lucunya, kami reunian tak cuma berdua. Satu teman lain yang juga dulunya sama-sama di Denmark dan sekarang tinggal di Oslo pun ikut berangkat bersama saya. Sedikit humoris mengingat bagaimana dulu kami berkenalan di Denmark, sampai akhirnya nasib mempertemukan kembali di Norwegia. Saya sendiri sudah tinggal hampir 4 tahun di sini, lebih lama dari mereka   yang sama-sama baru tiba di Nor...

7 Pelajaran Fesyen dari Gadis-gadis Eropa

Estimasi Waktu Baca:
Dari sejak saya masuk SMP, ibu saya sudah mulai mengenalkan ke banyak majalah remaja seperti Gadis atau Kawanku yang isinya sebagian membahas tren fesyen. Sungguh menyenangkan melihat gaya-gaya para model majalah yang menggunakan pakaian remaja khas tren anak muda zaman dulu, karena super inspiratif dan membuat saya belajar menemukan gaya saya sendiri. Dulu saya suka sekali memakai pakaian  vintage atau model asimetris yang terkesan unik dan beda. Setelah 10 tahun membaca majalah remaja Indonesia, saya sadar ternyata gaya-gaya yang ada di majalah kita lebih banyak dipengaruhi fesyen Amerika. Dari yang tabrak motif sana sini, berani pakai warna terang, hingga make up bold . Belum lagi saat K-Pop mulai booming di Indonesia, banyak remaja ikut-ikutan fesyen Korea yang lebih cute dan manis.  Baca juga: Belajar Fesyen dari Ibu-ibu Eropa Hijrah ke Eropa dua tahun lalu, saya mulai meninggalkan kebiasaan membaca majalah fesyen Amerika dan berhenti memperhatikan K-Pop. Saya b...

Program Au Pair di Norwegia Akan Dihentikan???

Estimasi Waktu Baca:
Membuka bulan yang baru dengan berita tentang skema au pair di Norwegia yang semakin kencang wacananya akan dihentikan. But, is it for real? Bagi saya, wacana tentang penghentian program au pair di Skandinavia ini bukan hal baru lagi. Lama ketika saya masih jadi au pair di Belgia, wacana tersebut di Denmark sudah berhembus kencang. Saya yang kala itu bingung apakah hal ini akan benar terjadi sudah harap-harap cemas mengingat Denmark adalah salah satu negara tujuan au pair . Beruntung, program au pair tidak dihapuskan namun strateginya diubah; dari mulai gaji au pair yang dinaikkan tiap tahun sampai les bahasa yang sekarang wajib dibayarkan sepenuhnya oleh host family  —  bukan lagi kommune . Baca juga: Mitos dan Fakta Au Pair di Skandinavia Tak hanya sekali itu saja wacana penghentian au pair ini terus digaungkan. Setiap tahun selalu saja ada cerita baru tentang au pair yang dieksploitasi oleh keluaga, yang mana sebetulnya juga merupakan cerita lama. Sekitar 3-4 tahun lalu, ...

7 Fakta Cari Kerja di Norwegia Selulus Kuliah

Estimasi Waktu Baca:
Kontrak magang saya baru diperpanjang untuk 6 bulan ke depan, so I think I am quite ready to tell you this! Sama seperti para lulusan baru pada umumnya, tujuan utama saya setelah diwisuda adalah mencari pekerjaan tetap. Frankly, I am seriously done with any internships or freelancing. Mungkin akan berbeda jika saya masih tinggal di Indonesia dan butuh pengalaman kerja. Namun karena berpengaruh terhadap izin tinggal yang harus terus diperbarui, maka mendapatkan pekerjaan tetap dengan benefit pegawai adalah motivasi saya saat ini.  Norwegia nyatanya adalah negara impian bagi banyak orang. Siapa yang tak menginginkan kehidupan personal dan karir yang seimbang? No more job calls di atas jam 5 sore dan tak akan ada yang mengganggu di hari libur. Belum lagi jaminan hidup yang layak, alam yang indah, flat hierarchy , libur sampai 5 minggu per tahun, cuti untuk melahirkan bagi ibu dan ayah, gaji yang tinggi, serta perks menggiurkan lainnya, menjadikan banyak imigran berniat untuk meniti...