Langsung ke konten utama

Postingan

Stop Menyuruh Orang ke Luar Negeri!

Estimasi Waktu Baca:
Dari media sosial, kita jadi tahu sekarang banyak sekali orang Indonesia yang berdomisili di luar negeri. Entah karena ikut pasangan, sekolah, bekerja, ataupun program lain semisal au pair . Informasi semakin masif dan sudah banyak celah mewujudkan mimpi ke berbagai negara di dunia. Apalagi tak jarang juga para diaspora ini menceritakan pengalamannya lewat sebuah tulisan ataupun video untuk dikonsumsi banyak orang. Ada informasi cari kerja di luar negeri, cari jodoh via online dating , cara ampuh memperebutkan beasiswa bergengsi, hingga flexing enaknya hidup di tanah orang. Semua konten bisa ditemukan dengan mudah dan selalu disambut baik oleh para audience yang memiliki cita-cita serupa; hijrah ke negara orang. Kalau sudah begini, lambat laun keinginan untuk pindah ke luar negeri dan ganti kewarganegaraan berubah jadi  new modern lifestyle . Siapa yang tidak ingin pindah ke luar negeri, ganti paspor, lalu bisa jalan-jalan keliling dunia dengan mudah?! - kata si A. Kayaknya kalau...

Status Terakhir: Penutupan Program Au Pair di Norwegia

Estimasi Waktu Baca:
Sudah hampir dua tahun lalu saya menulis postingan tentang upaya pemerintah Norwegia menutup program au pair , tapi sampai sekarang belum ada keputusan pasti apakah rencana tersebut akan jadi kenyataan. Isunya, musim gugur tahun lalu adalah akhir program au pair. Tapi karena dari tahun kemarin isu penerapan biaya kuliah sangat masif dan menarik lebih banyak minat internasional, kabar au pair pun perlahan tenggelam. Hingga akhirnya, thanks to Peggy Hessen Følsvik , kepala serikat pekerja Norwegia, yang awal tahun tadi mendesak pemerintah untuk kembali tegas menutup program au pair sesegera mungkin. Karena memang sudah jadi agenda awal sejak dilantiknya pemerintahan yang baru, maka dari 3 bulan lalu pengadilan secara umum membuka kolom untuk kritik, saran, serta solusi bagi siapapun yang ingin suaranya berpengaruh di persidangan. Meski tak ikut menyumbang suara, tapi saya giat mengikuti perkembangan terkini serta membaca satu per satu surat yang masuk. Tentu saja, setiap usulan akan meni...

6 Pertanyaan Rutin ke Pengangguran 6 Bulan ke Belakang

Estimasi Waktu Baca:
Menyimak lika-liku orang Indonesia di luar negeri itu memang seru. Menyenangkan. Mulai dari kehidupan pribadi, studi, hingga karir, selalu ada hal baru yang bisa dikulik. Masih berhubungan dengan  postingan sebelumnya tentang saya yang akhirnya dapat kerja setelah di-PHK. Menurut saya, tulisan kali ini cenderung informatif ketimbang inspiratif karena yang jadi pengangguran sampai setengah tahun bukan saya seorang. Tak perlulah saya harus cerita berjuang ini itu, karena dimana-mana jadi pengangguran mana ada yang enak. Namun karena posisinya di luar negeri, maka setiap cerita rasanya menarik untuk dibagikan. Inilah satu lagi kenyataan tak enaknya tinggal di negara orang. Sudah kena mental di-PHK, cari kerja baru lagi pun tak mudah.  Selama masa menganggur, saya sempat cerita ke beberapa orang dan tentu saja ada banyak hal yang membuat mereka penasaran. Terutama, kenapa saya bisa menganggur selama itu.  1. Bukannya bahasa Norwegia mu sudah lancar? Saya sering kali dilayangk...

6 Bulan Menggila, Akhirnya Kembali Kerja

Estimasi Waktu Baca:
Hey, let me tell you what happened 6 months back. My life had a plot twist! Blog ini sebetulnya adalah tempat sampah dan sudah penuh dengan rasa amarah sejak awal tahun lalu. Ada banyak hal yang ingin diceritakan, tapi tak jadi saya publikasikan karena setelah dibaca dan dibaca lagi, isinya hanya penuh dengan emosi. I was so hopeless setelah lagi-lagi kehilangan pekerjaan. Marah, lelah, gelisah, hingga putus asa. ...dan saya pun berada di titik terbawah. Lagi. Menurut kalian, mana yang paling buruk bagi para pemburu kerja? 1. Sudah daftar ke banyak perusahaan, tapi tak dapat panggilan sama sekali 2. Banyak tawaran kerja, tapi saat wawancara pertama sudah ditolak duluan 3. Berhasil sampai tahap wawancara final, namun selalu gagal bertarung dengan kandidat lain 4. Semuanya terlihat positif, diundang wawancara beberapa ronde, tapi tiba-tiba rekruter berubah strategi 5. Sudah diterima, negosiasi gaji, lalu tiba-tiba rekruter menghilang  Baca juga: Akhir Tahun, Saya di-PHK! FYI , selam...

Kalau Saya Jadi Au Pair Sekarang...

Estimasi Waktu Baca:
Mengingat masa pertama kali kenal au pair 10 tahun lalu, sampai sekarang saya mengikuti perkembangannya dan selalu girang menuangkan tiap cerita lewat blog ini. Dari yang mulai au pair belum terlalu dikenal orang Indonesia, negara yang dulunya sebatas Jerman-Belanda-Prancis, lalu sekarang semakin banyak yang melihat program ini sebagai batu loncatan meninggalkan kampung halaman.  Waktu sudah mengubah banyak hal dan sayangnya, peraturan au pair yang dulunya cukup lenggang sekarang semakin diperketat . Bahkan ada negara yang mengusulkan untuk menghapuskan program ini selamanya karena dinilai hanya konsep perbudakan semata. Beberapa informasi yang saya bagikan di blog ini pun rasanya menjadi kurang relevan karena tulisan dibuat berdasarkan situasi dan kondisi saya dulu. Bukannya semakin ramah dan terbuka, jadi au pair di awal 2020-an malah lebih sulit. Jadi membayangkan, kalau saya baru tahu program ini dan berniat hijrah juga ke tanah orang, apakah nasib saya masih akan seperti sekar...

Au Pair, Siap-siap Terkendala Umur dan Sertifikat Bahasa!

Estimasi Waktu Baca:
Tampaknya 2023 bukan tahun terbaik bagi yang baru tahu tentang au pair. Setelah masifnya informasi di internet tentang program pertukaran budaya yang sering memasarkan masa depan lebih cerah di luar negeri, ada banyak sekali anak muda Indonesia terutama perempuan, yang tertantang mengikuti jejak para pendahulu hijrah ke negara orang.  Au pair sendiri merupakan program (atau yang saya biasa sebut 'kesempatan') pertukaran budaya ke luar negeri dimana kita akan tinggal bersama keluarga asing yang disebut host family . Dalam masa tinggal 12-24 bulan ini, kita bisa dapat uang saku, tempat tinggal, makan, serta kesempatan untuk belajar bahasa lokal, asalkan mau membantu keluarga tersebut mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga sederhana. Terdengar sangat menarik tentunya. Selain program ini legal karena ada visanya sendiri, banyak mantan au pair yang akhirnya bisa lanjut sekolah dan dapat kerja permanen di Eropa. Baca juga: I Made It: Dari Au Pair Sampai Wisuda S2! Say...