Langsung ke konten utama

Menyudahi Kontrak Au Pair Lebih Awal

Estimasi Waktu Baca:


Cerita au pair memang banyak yang menggembirakan dan seru, tapi banyak juga yang mengalami kisah sedih dan penuh penyesalan. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin kalau keluarga angkat benar-benar akan memperlakukan kita seperti seorang au pair, bukan nanny atau housekeeper. Bahkan seorang agensi pun, tidak bisa memberi jaminan apakah calon keluarga dan calon au pair itu baik atau tidak.

Kadang saya juga mengutuki diri sebagai seorang Asia yang terlalu 'pakai perasaan'. Apa-apa merasa tidak enakan, terlalu banyak berpikir apakah omongan kita kasar atau berlebihan, padahal budaya Barat lebih condong bersikap blak-blakan dan terbuka. Perlunya speak up dan jujur tentang ketidaknyamanan ini sangat penting jika kita merasa ada masalah dengan keluarga angkat.

Sejujurnya saya tidak punya masalah besar dengan keluarga angkat yang sekarang. Mereka masih memperlakukan saya dengan baik, menyiapkan makan malam, bahkan tidak pernah mengatur macam-macam. Masalah terjadi ketika host mom merasa tidak puas lagi dengan hasil kerja saya dan berpikir kalau saya bukanlah orang yang tepat untuk merawat anaknya.

Suatu pagi, saya salah aksi yang akhirnya membuat host mom marah besar. Berawal dari kesalahan menaruh keju di kotak makan yang sama, akhirnya si hostmom pagi-pagi sudah kesal dan mengatakan kalau kontrak ini tidak akan bisa bertahan setahun. Katanya dia perlu orang yang lebih detail, fleksibel, dan dinamis mengasuh anaknya. Sementara saya, cenderung cepat bosan dan tidak inisiatif.

Sejujurnya host mom saya ini memang orang yang gampang sekali naik pitam. Sekalinya marah, dia benar-benar memaki dan kadang membuat saya harus pura-pura tutup telinga atas semua perkataannya. Sebalnya, besoknya dia seolah lupa sudah mengatakan apa dan membiarkan semuanya berlalu.

Di hari yang sama setelah kena makian, saya langsung membahas semua yang terjadi lewat WhatsApp. Ya, lewat WhatsApp. Dia bukan orang yang bisa diajak bicara secara langsung karena terlalu sibuk dengan kantornya. Itu juga baru dibalas dua hari kemudian.

Kesalahan-kesalahan saya beberapa bulan lalu diungkapkan dan seolah-olah membuat semuanya adalah kesalahan saya. Yang membuat saya dongkol lagi, saat day off dan sedang di luar, host mom masih sempat-sempatnya kirim pesan WhatsApp yang komplain kenapa bagian bawah sofanya terlihat menjijikkan karena tidak saya sapu. Padahal dia tidak pernah minta.

Kedua, saya juga tidak pernah melihat cleaning lady-nya vacuuming sampai ke bagian bawah sofa. So, I thought, clean what you can see saja. Lagipula, itu hari libur saya! Kenapa dia tidak coba diskusikan besoknya saja? Toh saya memang selalu di rumah.

Walaupun mereka terlihat baik, namun sebenarnya sifat si host mom yang terlalu emosional dan perfeksionis membuat saya berpikir ulang untuk bertahan di rumah mereka. Apalagi gaya bossy-nya yang saya kurang suka. Kalau ada sesuatu yang salah, hilang, atau tidak wajar pada tempatnya, pasti langsung bertanya ke saya dengan muka mengkerut.

Padahal dari awal kontrak dia sudah menekankan untuk lebih fokus ke anaknya daripada ke pekerjaan rumah tangga. Ternyata, semakin hari semakin banyak tugas bersih-bersih dan selalu dicek. Lucunya, tidak ada yang pernah sempurna di mata host mom. Selaluuuuu saja ada yang kurang dan membuat dia menegur lagi dan lagi. Padahal selama ini dia tidak pernah menjelaskan mana yang sempurna mana yang tidak.

Au pair job can go smoothly or end quickly, like mine. Sangat sulit bertahan di kondisi yang membuat kita sudah tidak nyaman dan terhakimi. Tapi kalau kamu merasa sebaiknya mesti keluar, then you should leave. Bekerja dan tinggal dengan keluarga yang membuat kita merasa tertekan lama-lama bisa bikin stress.

Makanya ketika ada teman atau kenalan yang ingin jadi au pair, saya tekankan untuk mengenal dulu kondisi keluarga, pekerjaan, dan anak yang akan diasuh sebelum langsung menerima pekerjaan tersebut. Hal ini untuk menghindari masalah jam kerja yang sering overworked atau miskomunikasi yang sering terjadi.



Komentar

  1. Hallo boleh minta alamat email nggak? Ada beberapa hal yg saya ingin tanyakan soalnya kisah diatas sam persis dengan apa yg saya alami sekarang di jerman..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Melati..

      Boleh banget! Cerita2 ke email saya ini ya: h.atmaningtyas@gmail.com

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Program Au Pair Selama Pandemi

Estimasi Waktu Baca:
Tidak hanya satu dua orang pembaca blog yang tiba-tiba DM dan mengeluh betapa susahnya kesempatan mereka jadi au pair di kala pandemi ini. Ada juga yang bertanya apakah karena Korona, program au pair dihilangkan untuk sementara waktu. Satu orang calon au pair yang harusnya berangkat ke Eropa tahun ini, saya dengar aplikasi visanya masih tertahan di Indonesia karena kantor penyedia servis belum buka. First of all, I feel sorry for them. Karena pandemi global yang sampai detik ini belum menemukan titik terang, kita harus dihadapkan dengan  new normal yang sebetulnya juga tak normal. Kegiatan di luar rumah dibatasi, perbatasan imigrasi tertutup untuk orang Indonesia, serta banyaknya penundaan aktifitas fisik di sana-sini demi mengurangi penyebaran infeksi. Tentunya karena perubahan peraturan di semua wilayah di dunia, imbas paling besar terjadi di pintu perbatasan antara negara. Kita tidak bisa seenaknya jalan-jalan ke luar negeri seperti dulu apalagi ke negara bervisa seperti Eropa...

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

Estimasi Waktu Baca:
( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu...

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

Estimasi Waktu Baca:
"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa...

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

Estimasi Waktu Baca:
*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita teta...

Ayo Belajar Bahasa Asing!

Estimasi Waktu Baca:
Apa yang kalian lakukan di rumah saat sedang galau, bad mood , kesepian, ataupun bosan tiada tara? Nonton TV atau DVD? Dengar radio? Curhat sama teman? Jalan ke mal? Atau tidur-tiduran di kasur, pasang AC, sekalian BBMan sama someone ? Semuanya tidak ada yang salah. Semuanya bisa kita lakukan untuk membunuh rasa bosan dan jenuhnya rutinitas setiap hari. Tapi tahu apa yang biasanya saya lakukan saat sedang bosan dan malas sekali melakukan aktifitas di luar? BELAJAR BAHASA ASING! Lho kok, sedang bosan masih sempet-sempetnya belajar? Belajar bahasa asing pula! Bahasa Inggris aja belum lulus ini. Yuhuuu.. Entah kenapa daripada berkeluh kesah dan mikirin si doi yang belum tentu mikirin kita (duilee..curhat) saya lebih menikmati buku-buku traveling ataupun buka Youtube untuk belajar bahasa asing. Saya merasa selain kegiatan ini positif, pikiran juga teralihkan dari rasa bosan yang kadang membuat saya mau teriak sejadi-jadinya. Terus apa sih enaknya belajar bahasa asing...