Langsung ke konten utama

5 Alasan Kenapa Musim Gugur Adalah Musim Terbaik

Estimasi Waktu Baca:
Bulan Oktober hampir selesai, tapi masih ada satu bulan lagi sebelum musim gugur tergantikan magisnya musim dingin. Meskipun lahir di musim semi, tapi saya suka hembusan semilir angin dingin-dingin empuk dan dedaunan garing yang hanya ada di musim gugur. Berikut lima alasan mengapa saya menyukai musim gugur dan kamu juga harus menyukainya!

1. Musim paling berwarna sepanjang tahun


Walaupun negara terbaik menikmati musim gugur adalah Kanada, namun beberapa jenis pepohonan yang ada di Eropa juga mulai terlihat cantik berganti warna di pertengahan musim. Mata kita yang tadinya teduh dan sejuk melihat pepohonan hijau di musim panas, menjadi lebih syahdu dan hangat ketika melihat hijaunya daun tergantikan warna merah, kuning, dan cokelat, hingga akhirnya gugur dan memenuhi tanah. Makna epiknya, entah kenapa sesuatu yang mati justru terlihat indah. Musim gugur juga mengajarkan kita untuk merelakan sesuatu yang memang harusnya pergi hingga tergantikan lagi yang baru. Heart struck!

2. Halloween and pumpkin


Halloween memang bukan budaya Eropa, tapi lebih ke budaya Amerika. Namun jangan salah, karena sudah cukup teradaptasi, akhirnya orang-orang Eropa juga menggelar pesta Halloween di penghujung bulan Oktober. Meskipun tidak seheboh di Amerika, tapi biasanya pesta yang digelar lebih privat dan seru.

Tidak suka pesta Halloween? Tenang, ada ajang memetik apel untuk dibuat penganan, mencari jamur di hutan, hingga memahat labu. Sup labu yang manis dan creamy pun biasanya sudah jadi soup of the day selama musim gugur.

3. Waktu terbaik liburan di Eropa


Musim-musim di Eropa memang tidak bisa diprediksi. Musim panas bisa menjadi petaka karena terus-terusan diguyur hujan. Musim dingin bisa jadi magis sekaligus mati rasa karena suhu yang gila-gilaan. Musim semi yang nan cantik juga terkadang masih bersalju hingga belum nyaman berjalan-jalan ke kota.

Musim gugur di Eropa bisa sedikit basah alias hujan di awal masuk musim. Namun temperatur sekitar 8 hingga 14 derajat di siang hari, masih cukup nyaman berjalan dan mengitari kota. Orang-orang juga kebanyakan sudah kembali konservatif namun tetap modis dengan paduan coat dan warna-warna gelap yang mulai mendominasi. Akhir bulan September, sepanjang bulan Oktober, hingga minggu pertama bulan November adalah waktu yang pas menikmati kota-kota Eropa selagi musim gugur. Kabar baik lainnya, tiket pesawat dan hotel bisa lebih murah karena bukan hi-season.

4. Snuggling time!


Kapan lagi menikmati empuknya bantal dan hangatnya selimut kalau bukan saat temperatur sedang turun? Karena energi sudah banyak terpakai saat musim panas, orang-orang yang tinggal di negara empat musim biasanya mulai kembali malas-malasan ketika musim gugur datang. Agenda akhir pekan yang tadinya nongkrong di kota, biasanya akan tergantikan dengan piyama, selimut, dan tv di rumah.  

5. Longer cozy evening


Tidak seperti musim panas yang terus-terusan terang hingga pukul 10 malam, di musim gugur, matahari akan tenggelam sekitar pukul 6 lalu terbit kembali pukul 7.30 pagi. Edisi sore santai pun jadi lebih panjang dan cozy. Memasukkan agenda minum cocktail bersama teman pun boleh ditambahkan di akhir pekan berikutnya. Tidak minum alkohol? Tenang, banyak juga kedai kopi yang tetap buka hingga jam 10 malam di beberapa negara di Eropa.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Program Au Pair Selama Pandemi

Estimasi Waktu Baca:
Tidak hanya satu dua orang pembaca blog yang tiba-tiba DM dan mengeluh betapa susahnya kesempatan mereka jadi au pair di kala pandemi ini. Ada juga yang bertanya apakah karena Korona, program au pair dihilangkan untuk sementara waktu. Satu orang calon au pair yang harusnya berangkat ke Eropa tahun ini, saya dengar aplikasi visanya masih tertahan di Indonesia karena kantor penyedia servis belum buka. First of all, I feel sorry for them. Karena pandemi global yang sampai detik ini belum menemukan titik terang, kita harus dihadapkan dengan  new normal yang sebetulnya juga tak normal. Kegiatan di luar rumah dibatasi, perbatasan imigrasi tertutup untuk orang Indonesia, serta banyaknya penundaan aktifitas fisik di sana-sini demi mengurangi penyebaran infeksi. Tentunya karena perubahan peraturan di semua wilayah di dunia, imbas paling besar terjadi di pintu perbatasan antara negara. Kita tidak bisa seenaknya jalan-jalan ke luar negeri seperti dulu apalagi ke negara bervisa seperti Eropa...

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

Estimasi Waktu Baca:
( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu...

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

Estimasi Waktu Baca:
"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa...

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

Estimasi Waktu Baca:
*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita teta...

Norwegia, Negara Sarat Nepotisme

Estimasi Waktu Baca:
Entah sebuah kebetulan atau tidak, cerita au pair saya di 3 negara selalu dimulai dari mengasuh anak balita. Di Belgia , saya dihadapkan dengan anak usia 2 tahun yang sedang giat-giatnya tantrum dan keras kepala. Di Denmark lebih seru lagi, mengasuh bayi usia 4 bulan yang tak cuma seorang, namun kembar! Di Norwegia, tugas saya lebih menantang karena harus jadi au pair, mama pengganti, kakak, serta pengasuh untuk bayi yang usianya saat itu baru 3 minggu, serta si kakak yang belum menginjak 2 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan saya sebagai au pair yang selalu dibayang-bayangi tangisan dan tantrum dari para balita dengan karakter mereka yang berbeda-beda. Sebagai orang tua yang punya anak balita, apalagi masih bayi, adalah normal rasanya untuk memastikan bahwa anak yang kita titipkan ke au pair baik-baik saja. Apalagi au pair ini hanyalah gadis asing yang asalnya (kebanyakan) dari negara ketiga yang tak punya kompetensi panjang sebagai nanny . Mereka tak pernah dilatih untuk ...