Langsung ke konten utama

Geocaching, Hobi Berburu Harta Karun Mengandalkan Informasi Geospasial

Estimasi Waktu Baca:

Sewaktu tinggal di Denmark beberapa bulan lalu, saya memang tipikal orang yang selalu mencari cara agar hari-hari terasa tidak membosankan. Kalau hanya diisi dengan nongkrong di bar, ngopi-ngopi, ataupun travelling setiap akhir pekan, rasanya terlalu monoton. Belum lagi biaya hidup di Denmark yang tinggi membuat saya harus berpikir ulang membeli segelas chai latte di kafe.

Karena bosan bolak-balik Kopenhagen hanya untuk jadi anak nongkrong, akhirnya saya mencoba keluar dari zona nyaman, lalu memilih hiking ke hutan-hutan kecil yang tidak jauh dari ibukota. Lumayan, olahraga sekalian menyatu dengan alam.

Lewat satu artikel berjudul "Fun Things to Do When You're Bored", saya juga penasaran dengan ide geocaching yang katanya sudah populer di seluruh dunia dari tahun 2000-an. Geocaching simpelnya adalah kegiatan yang melibatkan rasa suka cita di alam bebas; menggabungkan kecintaan terhadap kegiatan outdoor dan informasi geospasial yaitu SIG (Sistem Informasi Geografis).

Teknologi geospasial seperti SIG memang memiliki banyak manfaat dalam perencanaan kota, konservasi, ilmu pengetahuan lingkungan, sampai bidang kesehatan. Meskipun kedengarannya sangat profesional, tapi pemanfaatan informasi geospasial yang menyenangkan dan praktis ini sebenarnya sangat erat kaitannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti contohnya penggunaan peta online (Google Maps), sosial media (geotagging), dan GPS, yang dimanfaatkan dalam geocaching.


  

Serunya lagi, geocaching sebenarnya mirip-mirip perburuan harta karun (disebut geocaches atau caches) yang bisa ditemukan di tempat-tempat tersembunyi. Tempat-tempat tersebut pun memang melibatkan alam bebas seperti hutan, pegunungan, bukit kecil, ataupun lapangan luas. Jadi sebenarnya kegiatan geocaching memang bisa jadi alternatif hobi baru bagi para pecinta alam, hikers, ataupun orang yang suka tantangan.

Harta karun yang disembunyikan biasanya ditaruh di kotak plastik tahan air ataupun kontainer bekas, lalu disertai pula buku catatan kecil dan pena sebagai bahan laporan bagi si penemu (geocachers). Kalau harta karun sudah ditemukan, si penemu wajib meletakkan harta karun lain yang sudah disiapkan, lalu kembali disembunyikan di tempat berbeda untuk ditemukan para pemburu lain.


Foto: DIYGENIUS 

Untuk menemukan harta karun tersebut, biasanya para pemburu harus memastikan koordinat peta untuk lokasi masing-masing benda yang diposting secara online. Alat yang bisa digunakan untuk mengukur koordinat tersebut biasanya menggunakan GPS handheld, aplikasi ponsel pintar, ataupun peta geospasial. Karena alat-alat tersebut penggunaannya sangat mudah, kegiatan ini tidak perlu lagi memerlukan pelatihan atau keahlian khusus. Capek memang, tapi menantang dan seru!

Meskipun daerah tempat tinggal saya di Denmark banyak ditemukan caches, tapi seringkali saya malah melupakan misi mencari mereka. Saya dan Solveig, seorang teman asal Prancis yang memang pecinta alam, akhirnya lebih sering memutuskan untuk hiking santai tanpa harus menemukan caches.


 Salah satu aplikasi smartphone dengan menggunakan model GPS 3D elevasi untuk trek olahraga

Demi melancarkan kegiatan hiking pun, kami biasanya memanfaatkan pemetaan digital melalui aplikasi Maps 3D untuk memudahkan mempelajari data ketinggian di suatu daerah. Aplikasi ini juga biasanya digunakan para atlet sebagai trek GPS untuk bersepeda, ski, dan kegiatan luar ruangan lainnya. Aplikasi tersebut memberikan informasi penting dan akurat mengenai altimeter ketinggian menggunakan program elevasi 3D.

Meskipun tanah di Denmark konturnya flat, tapi penggunaan aplikasi di atas bisa sangat membantu saat hiking ke daerah berbukit. Karena Solveig tidak memiliki ponsel pintar, ide si doski untuk membawa peta geospasial yang sudah dicetak pun menjadi sangat membantu. Akan ada saatnya dimana GPS tidak berfungsi, sinyal empot-empotan, ponsel mati, ataupun banyaknya jalan setapak yang tidak terlihat dari peta digital biasa.

Peta berbentuk PDF tersebut Solveig dapatkan (lebih tepatnya "buat") dari CalTopo yang bisa disimpan dan dicetak langsung. Selain peta berbentuk kertas, salah satu aplikasi berbentuk peta geospasial yang juga bisa disimpan dengan format PDF bisa dibeli di Avenza.

Kembali ke Indonesia, saya sempat mengunduh kembali aplikasi geocaching untuk mengecek keberadaan harta karun di sekitar Palembang yang ternyata belum ada jejak-jejak caches. Di Indonesia, peminat geocaching memang tidak banyak. Dari informasi yang saya temukan, posisi geocaching lebih banyak ditemukan di Jakarta, Semarang, Solo, Jogja, dan Bali. Soal seberapa banyaknya pemburu yang berhasil menemukan harta karun di tempat ini, saya tidak tahu. Namun, dengan memanfaatkan data spasial yang tersedia, diharapkan keberadaan geocaching di Indonesia mampu mempopulerkan kekayaan alam dan situs-situs ternama bangsa.



Penasaran ingin jadi geocacher? Mari berburu!

  


Ingin tahu lebih lanjut tentang informasi geospasial? Di Indonesia sebenarnya sudah ada Badan Informasi Geospasial (BIG) yang menangani bidang ini secara lebih rinci. Sebelumnya, lembaga ini bernama BAKOSURTANAL yang dibentuk dari tahun 1969. BIG lagir untuk menggantikan BAKOSURTANAL sebagai penuaian amanat pasal 22 UU Nomor4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (IG).

Pecinta geografi, arkeologi, geologi, statistika, ataupun Indonesia, ayo masuk!




Komentar

  1. Maennya gampang sebenernya, Mas. Ntar GPS langsung ngedeteksi sendiri kok kalo di lokasi Mas ada caches atau gak :) Ada juga pilihan, mau ngedeteksi berdasarkan apa; trek, lokasi, atau tipe caches seperti apa yang pengen dicari (pake kode).

    BalasHapus
  2. Aahh sukakk artikelnyaa!!
    Mumpung lagi studi di Tiongkok nih, jadi pengen nyoba nyari hidden object dan explore keliling kota, jadi ga gabut gabut di dorm :3

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Program Au Pair Selama Pandemi

Estimasi Waktu Baca:
Tidak hanya satu dua orang pembaca blog yang tiba-tiba DM dan mengeluh betapa susahnya kesempatan mereka jadi au pair di kala pandemi ini. Ada juga yang bertanya apakah karena Korona, program au pair dihilangkan untuk sementara waktu. Satu orang calon au pair yang harusnya berangkat ke Eropa tahun ini, saya dengar aplikasi visanya masih tertahan di Indonesia karena kantor penyedia servis belum buka. First of all, I feel sorry for them. Karena pandemi global yang sampai detik ini belum menemukan titik terang, kita harus dihadapkan dengan  new normal yang sebetulnya juga tak normal. Kegiatan di luar rumah dibatasi, perbatasan imigrasi tertutup untuk orang Indonesia, serta banyaknya penundaan aktifitas fisik di sana-sini demi mengurangi penyebaran infeksi. Tentunya karena perubahan peraturan di semua wilayah di dunia, imbas paling besar terjadi di pintu perbatasan antara negara. Kita tidak bisa seenaknya jalan-jalan ke luar negeri seperti dulu apalagi ke negara bervisa seperti Eropa...

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

Estimasi Waktu Baca:
( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu...

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

Estimasi Waktu Baca:
"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa...

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

Estimasi Waktu Baca:
*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita teta...

Ayo Belajar Bahasa Asing!

Estimasi Waktu Baca:
Apa yang kalian lakukan di rumah saat sedang galau, bad mood , kesepian, ataupun bosan tiada tara? Nonton TV atau DVD? Dengar radio? Curhat sama teman? Jalan ke mal? Atau tidur-tiduran di kasur, pasang AC, sekalian BBMan sama someone ? Semuanya tidak ada yang salah. Semuanya bisa kita lakukan untuk membunuh rasa bosan dan jenuhnya rutinitas setiap hari. Tapi tahu apa yang biasanya saya lakukan saat sedang bosan dan malas sekali melakukan aktifitas di luar? BELAJAR BAHASA ASING! Lho kok, sedang bosan masih sempet-sempetnya belajar? Belajar bahasa asing pula! Bahasa Inggris aja belum lulus ini. Yuhuuu.. Entah kenapa daripada berkeluh kesah dan mikirin si doi yang belum tentu mikirin kita (duilee..curhat) saya lebih menikmati buku-buku traveling ataupun buka Youtube untuk belajar bahasa asing. Saya merasa selain kegiatan ini positif, pikiran juga teralihkan dari rasa bosan yang kadang membuat saya mau teriak sejadi-jadinya. Terus apa sih enaknya belajar bahasa asing...