Langsung ke konten utama

This is My Final Au Pair Year!!

Estimasi Waktu Baca:

It is soooo close to an end!!!!

Ngomong-ngomong, saat menulis tulisan ini, saya masih ada di Zermatt, Swiss, dalam rangka 'business trip'. Host family saya memutuskan pindah ke tempat impian di Pegunungan Alpen, untuk bermukim dan meneruskan hidup dengan meninggalkan semua kehidupan sosial mereka di Norwegia. Pegunungan Alpen yang membentang di Swiss tentu saja jadi pilihan utama karena Zermatt adalah tempat spesial yang selalu jadi area favorit ber-ski bagi orang-orang berduit. Tak heran juga mengapa Swiss, karena negaranya sama-sama makmur dan semahal Norwegia, namun dengan pajak penghasilan yang lebih rendah.

I am one of the luckiest au pairs yang bisa terbang dengan gratis ke tempat ini tanpa perlu merogoh kocek teramat dalam untuk menemukan the real winter wonderland di Eropa. Zermatt is AWESOME! Kanan kiri membentang pepohonan pinus berselimut salju, perumahan berkayu oak yang hampir semuanya adalah tempat penginapan, serta cuitan burung yang menambah tenangnya desa ini dengan tingkat polusi hampir zero! Zermatt bisa jadi adalah tempat terakhir yang saya singgahi dalam rangka "kunjungan kerja" sebagai au pair.

Kalau bisa menyudahi lebih awal, sebetulnya saya sudah ingin cepat-cepat diwisuda saja sebagai au pair dari beberapa bulan yang lalu. Tapi karena kontrak dan komitmen yang mengikat, saya terus saja bekerja sekalian menafkahi diri sendiri setelah diterima jadi mahasiswa S-2 di Universitas Oslo.

Saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan formal setelah 5 tahun hanya berkutat dengan anak-orang & tugas rumah tangga saja. Kesempatan ini saya gunakan karena banyak kampus di Norwegia masih membebaskan biaya kuliah bagi mahasiswa lokal dan internasional. Meskipun begitu, biaya hidup yang tinggi juga cukup memberatkan apalagi saya kuliah pakai biaya sendiri dan tanpa sponsor.

Mungkin ada yang berasumsi kalau hidup saya setelah selesai au pair ini cukup enak karena sudah ada Mumu. At least, bisa menumpang dan makan gratis di apartemen doi. Well, if that's what you really think, then you are wrong! I have stood on my own feet since day 1! Mumu memang teman terbaik dan partner saya di Norwegia, namun bukan berarti dia ATM berjalan dan pengganti bapak saya di sini. He would help me if needed, tapi bukan berarti juga saya bisa menggantungkan semua harapan ke dia. Meskipun, I feel safe because he is always by my side. 

Namun walaupun hepi juga sebentar lagi akan menamatkan kontrak terakhir au pair, ada perasaan gelisah yang terus membuncah di akhir tahun ini. Dulu, meskipun harus kerja rodi jaga anak dan bersih-bersih rumah, namun tinggal tunggu awal bulan, uang saku sudah otomatis masuk ke rekening tabungan. Mulai tahun depan, saya otomatis harus cari penghasilan sendiri untuk menyokong kehidupan sampai tamat kuliah.

FYI, saya memutuskan untuk tidak tinggal dengan Mumu dulu, namun menyewa kamar di student housing. Yang artinya, semua biaya sewa dan makan setiap hari harus saya tanggung sendiri. Ada perasaan takut juga bagaimana kalau saya tidak dapat kerja per awal tahun dan tidak bisa bayar sewa bulanan. Perasaan kalut ini bahkan menyelimuti hampir setiap hari! Maklumlah, uang saku yang saya kumpulkan selama 2 tahun ini tak seberapa, belum lagi masih tertitip di orang lain pula.

But the best thing is, I know myself better every day! Setelah semua pengalaman yang sudah saya lewati ini, saya yakin semuanya akan baik-baik saja. Au pair sudah berakhir, no kehidupan mewah, no kamar luas dan modern, no kulkas penuh makanan mahal, no gaji otomatis tiap awal bulan. A bit terrifying to leave them all, but this is LIFE I have always wanted; free from all the limitations!

Terima kasih yang sudah mampir ke blog ini dan selalu membaca cerita tentang kehidupan saya sebagai seorang au pair - dan sekarang sebagai pelajar. Saya tetap akan menulis lika-liku dunia au pair karena informasi tentang au pair itu selalu up-to-date setiap tahunnya. I am soooo happy sharing my au pair life to you for these 5 years! Semoga kalian selalu kembali mengunjungi Art och Lingua untuk menggali cerita terbaru saya di fase berikutnya.

Untuk yang akan mulai, masih jadi au pair, atau akan lanjut au pair lagi, good luck!! Being an au pair is definitely full of fun, but interdependent and addicted!

Ngomong-ngomong, kalau ada yang tanya, apakah saya sedih meninggalkan host kids saya setelah 2 tahun bersama mereka? I WILL BE!! I 1000% WILL BE! Sekesal-kesalnya saya dengan dua bocah Norwegia itu, tapi sejak usia si adik baru 3 minggu, saya adalah orang tua ketiga yang selalu mengasuh dan mengganti popoknya. Saya juga yang paling tahu perkembangan kecerdasan si kakak yang tadinya belum bisa bicara saat pertama kali saya tiba di Oslo, sampai sekarang, sudah cerewet kalau diajak adu mulut. I am sad, but again, happy not to take care of them anymore!



Komentar

  1. Actually, we should thank you for all the useful informations you gave to us. Still waiting for your update. Fighting :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak maen ke blog aku dan nyari2 informasi ya. Aku gak akan berenti nulis kok 😇 Selalu ada aja informasi yang akan di-share.

      Hapus
  2. Terimakasih ka atau semua informasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2!!! Tapi jangan sedih, aku kelar au pair bukan berarti ninggalin blog. Akan ada aja informasi yang bakalan aku kasih kok ;) Gak akan berenti nulis soal peraupairan.

      Hapus
  3. Oh my God. Bacanya haru. Mba di Indonesia sampai kapan nih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku di Indonesia sampe tgl 8 Januari 😇

      Hapus
  4. Halo mba
    Ga sengaja baca blog mu dan pengen baca2 jdul yg lain cerita yg lain lg..
    Dan pengalaman2 aupair mba d beberapa negara..
    mau nanya dong mba pertama jd aupair pake agency kah? Thx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Short answernya; YEEEES! :)

      Bisa coba baca postingan aku awal2 soal au pair di tahun 2014.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Program Au Pair Selama Pandemi

Estimasi Waktu Baca:
Tidak hanya satu dua orang pembaca blog yang tiba-tiba DM dan mengeluh betapa susahnya kesempatan mereka jadi au pair di kala pandemi ini. Ada juga yang bertanya apakah karena Korona, program au pair dihilangkan untuk sementara waktu. Satu orang calon au pair yang harusnya berangkat ke Eropa tahun ini, saya dengar aplikasi visanya masih tertahan di Indonesia karena kantor penyedia servis belum buka. First of all, I feel sorry for them. Karena pandemi global yang sampai detik ini belum menemukan titik terang, kita harus dihadapkan dengan  new normal yang sebetulnya juga tak normal. Kegiatan di luar rumah dibatasi, perbatasan imigrasi tertutup untuk orang Indonesia, serta banyaknya penundaan aktifitas fisik di sana-sini demi mengurangi penyebaran infeksi. Tentunya karena perubahan peraturan di semua wilayah di dunia, imbas paling besar terjadi di pintu perbatasan antara negara. Kita tidak bisa seenaknya jalan-jalan ke luar negeri seperti dulu apalagi ke negara bervisa seperti Eropa...

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

Estimasi Waktu Baca:
( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu...

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

Estimasi Waktu Baca:
"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa...

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

Estimasi Waktu Baca:
*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita teta...

Ayo Belajar Bahasa Asing!

Estimasi Waktu Baca:
Apa yang kalian lakukan di rumah saat sedang galau, bad mood , kesepian, ataupun bosan tiada tara? Nonton TV atau DVD? Dengar radio? Curhat sama teman? Jalan ke mal? Atau tidur-tiduran di kasur, pasang AC, sekalian BBMan sama someone ? Semuanya tidak ada yang salah. Semuanya bisa kita lakukan untuk membunuh rasa bosan dan jenuhnya rutinitas setiap hari. Tapi tahu apa yang biasanya saya lakukan saat sedang bosan dan malas sekali melakukan aktifitas di luar? BELAJAR BAHASA ASING! Lho kok, sedang bosan masih sempet-sempetnya belajar? Belajar bahasa asing pula! Bahasa Inggris aja belum lulus ini. Yuhuuu.. Entah kenapa daripada berkeluh kesah dan mikirin si doi yang belum tentu mikirin kita (duilee..curhat) saya lebih menikmati buku-buku traveling ataupun buka Youtube untuk belajar bahasa asing. Saya merasa selain kegiatan ini positif, pikiran juga teralihkan dari rasa bosan yang kadang membuat saya mau teriak sejadi-jadinya. Terus apa sih enaknya belajar bahasa asing...