Langsung ke konten utama

Membangun Perusahaan Startup di Norwegia

Estimasi Waktu Baca:

Setelah sibuk beberapa minggu ke belakang, saya akan membuka postingan pertama di bulan Maret tentang progress perkuliahan semester ini. Kalau ada yang tanya bagaimana kehidupan akademis saya di Universitas Oslo, jawabannya sedang ups and down. Tidak seperti semester lalu yang lebih disibukkan dengan riset dan presentasi, tahun ini pengalamannya lebih hands-on karena kami betul-betul terjun ke lapangan membuat perusahaan startup.

Sebagai salah satu negara terkaya di dunia berdasarkan GDP per kapita, Norwegia akan menjadi tempat dimana perusahaan startup baru akan terus bermunculan. Jika kalian tinggal di sini dan punya ide bagus membuat perusahaan teknologi baru bersama tim yang berkompeten di atas rata-rata, kalian setidaknya mampu mengumpulkan 1-2M NOK (~1,5-3T Rupiah) pada fase pertama.

Ada kabar baik juga bagi para pelajar yang tertarik membangun perusahaan startup. Banyak free money berkucuran dari organisasi di Norwegia yang mau menyumbangkan banyak uang untuk mendukung ide kita menjadi real business. Meskipun saya merasa perkembangan industri startup di Norwegia belum se-booming negara tetangganya di Skandinavia, tapi ekosistem di negara ini cukup menjanjikan bagi para entrepreneur muda.

Kembali ke program studi saya, di semester ini kami sekelas yang tinggal berisikan 10 orang dibentuk menjadi 3 tim baru. Tiap tim diwajibkan mempunyai ide bisnis yang bisa diaplikasikan dalam waktu maksimal 4 bulan. Ide ini tak wajib diteruskan menjadi real business, tapi hanya sebagai latihan bagaimana membangun startup di fase awal sebelum launching produk. Meskipun, salah satu tim ada yang sangat berminat meneruskan ide mereka menjadi bisnis nyata di masa depan.

Tidak semua ide bisnis bisa berkualifikasi, lho! Akan ada 2 kali presentasi yang harus dipaparkan sebelum semua tim berkualifikasi bisa meneruskan dan menjalankan ide tersebut. Kadang ada yang harus ganti ide sampai 3 kali, ada juga cerita gagal tak berkualifikasi dari para senior hingga ending-nya magang di salah perusahaan terpilih.

Milestones dari ide bisnis juga bisa bermacam-macam. Karena hanya diberikan waktu 4 bulan atau sampai semester kedua selesai, kami boleh membuat MVP (Minimum Viable Product), fixed business model, atau beta-version product sebagai hasil akhir. Karena akan sulit sekali membuat produk nyata yang produksi dan risetnya bisa memakan waktu lama, semua tim akhirnya sepakat akan membuat produk yang termasuk dalam industri teknologi. Produk digital layaknya sebuah situs atau aplikasi ponsel dirasa lebih realistis dan achievable dalam waktu 4 bulanan.

Saya dan 2 rekan satu tim memutuskan untuk membuat situs dan aplikasi ponsel yang tujuannya memudahkan hidup para foreigners dan anak muda Oslo yang tertarik dengan harga diskonan. Sebagai negara yang harga makanannya sangat mahal, kami on going membuat platform servis yang menawarkan diskonan di beberapa restoran di Oslo bagi yang suka makan-makan tanpa takut kantong bolong.

Agar suasana semakin mirip para entrepreneur yang bekerja di kantor, kampus bekerja sama dengan salah satu ekosistem startup di Oslo Science Park, StartupLab, untuk menunjang workflow kami. Kantornya sangat modern karena bukan lagi macam bilik-bilik tertutup ala kantor model dulu, tapi open space yang memungkinkan tiap entrepreneurs bersosialisasi dengan lebih leluasa. Kami juga dibantu beberapa mentor yang kadang datang memberikan masukan bagaimana mengelola riset pasar dengan lebih baik.

Setelah terjun langsung menjadi co-founder perusahaan startup, saya banyak belajar bahwa membangun perusahaan baru itu tidak mudah dan bukan cuma soal ikut-ikutan tren. Bekerja sama dengan orang yang tak tepat akan mempengaruhi alur kerja, mood, dan perkembangan perusahaan ke depannya. Teman yang baik secara personal, belum tentu akan cocok menjadi rekan kerja yang profesional. Akan ada banyak silent treatment dalam hubungan internal sebuah tim hanya karena kami berusaha menghargai perasaan masing-masing. That's why my academic life this semester has so much ups and downs.

Ide yang baik belum tentu juga akan berkembang menjadi bisnis yang bagus. Jadi kalau kamu sekarang sedang tertarik punya perusahaan sendiri dan merasa punya ide brilian, saran saya, banyak-banyaklah riset tentang pasar yang akan kamu tuju. Banyak-banyaklah bicara dengan calon pelanggan dengan cara wawancara, survei, atau mendengar keluh kesah mereka. Riset menjadi sangat penting karena ide dan bisnis yang bagus, ketika tak ada permintaan besar yang besar, akan menjadi bisnis yang sia-sia.

Akan ada banyak operating cost yang harus kamu pikirkan sekiranya tertarik membuat produk nyata; contohnya tas, baju, atau makanan. Kalau memang sudah punya modal, why not. Tapi kalau merasa ide kita akan berjalan sangat baik di pasar yang kita tuju, sering-sering saja datang ke event startup atau kompetisi ide. Kompetisi ini hadiahnya cukup lumayan dan bisa saja jadi salah satu money resource penunjang ide bisnis kamu. Sementara event startup ini bisa jadi tempat belajar sangat baik bagi yang ingin belajar bagaimana pitching di hadapan investor, ataupun tempat mingling sekedar cari networking.

Satu hal lagi dari profesor saya di kampus, jangan angkuh dan besar kepala! Anak-anak muda yang jualan baju online, belum tentu bisa dianggap seorang wirausahawan. Jadi the true CEO dari sebuah perusahaan itu langkahnya sangat panjang dan mentality juga penentu apakah perusahaan yang kita bangun akan berkembang di masa depan. Until then, I am still learning how to be a good CEO for my next real business!



Komentar

  1. Ketika membaca artikel2 soal belajar di Norwegia plus bahasannya yang cukup mendalam, langsung deh info blog-nya Nin segera disebar ke 'yang membutuhkan'. Biar mereka bisa membaca sendiri betapa 'usaha', itu diperlukan kalau memang mau belajar ke LN. Diperkirakan beasiswa studi saat ini tidak mudah didapat/dicari ketika pandemic masih melanda dunia sebab kebanyakan fasilitas pendidikan akan dibanjiri oleh calon pelajar local. Pelajar2 di neg Barat yang semula berniat mengambil Gap Year untuk jalan2 kellg dunia & sementara perbatasan masih banyak yang ditutup entah hingga kapan, akan lebih berkonsentrasi untuk belajar di univ. Placement yang membludak, bisa2 hanya menyisakan sedikit tempat bagi pelajar internasional. Kreatifitas menjadi sangat diperlukan jika tetap ingin 'terbang menebar pesona' belajar ke LN. Caranya? Baca advisnya Nin .....! Smile!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow!!! I really like you words!!! Thank you for caring about those issues so much!

      Bener banget!!!
      Di Norwegia kemaren kabarnya jumlah applicants membludak sampe2 mesti ngasih jatah lebih banyak 😅 Temen ku ketar-ketir banget bakalan gak diterima karena saingan pasti lebih banyak.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Program Au Pair Selama Pandemi

Estimasi Waktu Baca:
Tidak hanya satu dua orang pembaca blog yang tiba-tiba DM dan mengeluh betapa susahnya kesempatan mereka jadi au pair di kala pandemi ini. Ada juga yang bertanya apakah karena Korona, program au pair dihilangkan untuk sementara waktu. Satu orang calon au pair yang harusnya berangkat ke Eropa tahun ini, saya dengar aplikasi visanya masih tertahan di Indonesia karena kantor penyedia servis belum buka. First of all, I feel sorry for them. Karena pandemi global yang sampai detik ini belum menemukan titik terang, kita harus dihadapkan dengan  new normal yang sebetulnya juga tak normal. Kegiatan di luar rumah dibatasi, perbatasan imigrasi tertutup untuk orang Indonesia, serta banyaknya penundaan aktifitas fisik di sana-sini demi mengurangi penyebaran infeksi. Tentunya karena perubahan peraturan di semua wilayah di dunia, imbas paling besar terjadi di pintu perbatasan antara negara. Kita tidak bisa seenaknya jalan-jalan ke luar negeri seperti dulu apalagi ke negara bervisa seperti Eropa...

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

Estimasi Waktu Baca:
( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu...

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

Estimasi Waktu Baca:
"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa...

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

Estimasi Waktu Baca:
*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita teta...

Ayo Belajar Bahasa Asing!

Estimasi Waktu Baca:
Apa yang kalian lakukan di rumah saat sedang galau, bad mood , kesepian, ataupun bosan tiada tara? Nonton TV atau DVD? Dengar radio? Curhat sama teman? Jalan ke mal? Atau tidur-tiduran di kasur, pasang AC, sekalian BBMan sama someone ? Semuanya tidak ada yang salah. Semuanya bisa kita lakukan untuk membunuh rasa bosan dan jenuhnya rutinitas setiap hari. Tapi tahu apa yang biasanya saya lakukan saat sedang bosan dan malas sekali melakukan aktifitas di luar? BELAJAR BAHASA ASING! Lho kok, sedang bosan masih sempet-sempetnya belajar? Belajar bahasa asing pula! Bahasa Inggris aja belum lulus ini. Yuhuuu.. Entah kenapa daripada berkeluh kesah dan mikirin si doi yang belum tentu mikirin kita (duilee..curhat) saya lebih menikmati buku-buku traveling ataupun buka Youtube untuk belajar bahasa asing. Saya merasa selain kegiatan ini positif, pikiran juga teralihkan dari rasa bosan yang kadang membuat saya mau teriak sejadi-jadinya. Terus apa sih enaknya belajar bahasa asing...