Langsung ke konten utama

5 Tanda Kamu Ketagihan Au Pair

Estimasi Waktu Baca:

Tinggal di luar negeri, bebas berbikini, serunya berkencan dengan cowok Kaukasian, hingga tak lagi pusing memikirkan betapa idiotnya tingkah beberapa oknum di kampung halaman, membuat kebanyakan au pair Indonesia merasa betah hidup di Eropa. Walaupun ujungnya mereka akan menambahi fakta bahwa hidup di luar negeri itu tidak seindah yang semua orang pikirkan, tapi tetap saja mereka memilih untuk stay.

Meninggalkan zona nyaman lalu hijrah ke negara orang demi jadi au pair itu adalah salah satu langkah terbesar yang ada dalam hidup mu. Banyak hal yang akan kamu pelajari dengan tinggal di negara baru, dengan mulai memahami diri sendiri hingga berusaha beradaptasi dengan budaya yang tak selalu membuat nyaman. But that's an amazing life story and you should be grateful to have it! Bersyukur karena tak semua orang Indonesia punya kesempatan tinggal di luar negeri - dengan kategori permit sebagai au pair.

Meskipun awalnya au pair hanya dikenal oleh para mahasiswa sastra yang tertarik belajar bahasa di Prancis dan Jerman, semakin ke sini, au pair lebih dikenal sebagai batu loncatan. Bukan hanya untuk mengasah bahasa asing, tapi untuk mendekatkan mimpi mu agar lebih nyata. Mulai dari kuliah dan bekerja di luar negeri, sampai menikahi cowok Kaukasian yang selama ini menjadi idaman.

No matter what your purpose is, jangan sampai keasikan jadi au pair hingga lupa memikirkan rencana ke depannya! Kenapa, karena kehidupan au pair yang nyaman dengan tempat tinggal gratisan, bisa membuat mu ketagihan! Berikut 5 tanda kamu mulai ketagihan jadi au pair!


1. Malas pulang ke Indonesia setelah au pair pertama

Sebagai au pair junior yang memulai kisah au pair pertama di tahun 2014, bisa dikatakan saya cukup membuka telinga terhadap semua masukan para teman-au pair senior. Ketika memutuskan untuk langsung lanjut au pair di negara lain tanpa pulang dulu ke Indonesia, seorang teman-senior malah menasehati saya sebaliknya. Baginya, pulang ke Indonesia setelah 1 tahun jadi au pair itu bisa jadi terapi sebelum memulai petualangan selanjutnya.

"Trust me, you are gonna be so happy ketemu abang bakso lagi, makan sate pinggir jalan, hingga merasakan unlimited sunlight setiap harinya! Eropa begini-begini saja, Nin. Kamu ke sini 5 tahun dari sekarang pun masih akan seperti ini saja. Take your chance to go home and say hi to your relatives!" katanya saat itu.

Saya memang malas pulang ke Indonesia. Malas membuat visa dari awal, malas packing, lalu malas juga kalau harus terbang lagi PP Indonesia-Eropa. Tapi karena pulang ke Indonesia saat itu dibayari host family setengahnya, saran teman tersebut pun saya dengarkan. Memang benar, pulang sebentar ke Indonesia demi memanjakan lidah dan berkumpul bersama keluarga tanpa harus mendengar teriakan anak balita di rumah bisa jadi terapi tersendiri.

2. Tak ada tujuan di Indonesia

Kamu sudah jadi au pair, lalu pulang ke Indonesia for good, namun sempat terpikir untuk jadi au pair lagi karena merasa muak atau tak ada tujuan di Indonesia. Yang seperti ini, banyak! Ada perasaan rindu suasana Eropa, rindu minum-minum di bar, rindu pulang malam tanpa ancaman begal, rindu swiping dengan para bule-bule kece, hingga rindu suasana Natal yang syahdu di Benua Biru.

Di saat seperti ini, memang hanya au pair yang bisa dengan mudah menerbangkan mu kembali ke Eropa dan menikmati kebebasan yang terbatasi di Indonesia. Tapi apa kamu yakin ingin kembali jadi au pair hanya merasa tak ada tujuan di Indonesia, bukan karena kemarin belum puas menikmati kehidupan di negara orang?

3. Travelling 'murah' masih ada dalam wishlist mu


It was me when I started my journey back to Denmark! Pengalaman au pair saya di Belgia betul-betul up and down and I swore to myself to be an au pair again! Di Belgia, saya hanya punya 10 hari libur untuk jalan-jalan yang saat itu ending-nya pergi ke Italia dan Yunani. Masih ada banyak sekali daftar negara yang ada dalam wishlist dan saya sadar bahwa sekembalinya ke Indonesia, melihat Eropa dari peta saja sudah sangat jauh. Belum lagi masalah ongkos dan visanya! Manusia kere macam saya ini rasanya harus kembali bermimpi.

Saya tahu bahwa dengan jadi au pair lagi, resolusi saya travelling ke banyak tempat jauh dari kata impossible. Kenyataannya benar, uang saku saya selama 2 tahun di Denmark memang hanya habis untuk jalan-jalan. Hampir setiap bulan saya bisa travelling dengan (lebih) murah dan mudah ke banyak negara Eropa, dari Islandia sampai Turki, hingga kesampaian mengunjungi adik saya di Cina.

I know it is not only me since most au pairs who love traveling also would do the same; niat jadi au pair lagi demi keliling dunia!

4. Post-au pair crisis

Pertanyaan "setelah ini ingin kemana?" adalah momok yang real bagi para au pair. Sudah malas pulang ke Indonesia, tak niat lanjut kuliah, si pacar belum ingin menikahi, ya ujung-ujungnya lanjut au pair lagi! Mau bagaimana lagi, iya kan?

Hidup jadi au pair di Eropa itu cukup nyaman. Dapat kamar gratisan, makan tinggal buka kulkas, jalan-jalan murah, belum lagi banyaknya fasilitas mewah lainnya yang host family berikan. Sebelum menyentuh usia 30, berkelana ke banyak tempat untuk jadi au pair pun rasanya tak masalah. Tapi semakin kamu bingung ingin kemana selepas au pair, semakin kamu akan menyadari bahwa ternyata 1 tahun di negara orang itu bisa berlalu dengan sangat cepat! Hayo, ingin kemana lagi selepas ini?

5. Belum selesai satu, sudah berniat ke negara selanjutnya

Kamu baru beberapa bulan di satu negara, tapi karena menyadari enaknya jadi pair, sudah memiliki rencana untuk langsung mencari host family sebelum permit habis. Hal ini dilakukan agar tak harus pulang dulu ke Indonesia dan apply visa lagi. Now you understand, how 'easy' it is handling the papers in Europe than in Indonesia!

Tapi sebelum memutuskan ingin jadi au pair lagi, kamu harus berencana lebih jelas apa tujuan au pair kesekian ini. Kehidupan au pair yang nyaman akan berakhir ketika menyentuh usia 29 atau 30 tahun. Jadi sebelum buang-buang waktu dan menua karena bingung "setelah ini ingin kemana?", perhaps you might challenge yourself to stop living comfortably (as an au pair)?

⚘ ⚘ ⚘

Being an au pair is so addictive, Teman-teman! Sesampainya di sini, ada kemungkinan kamu akan menyetir ulang jalan untuk pulang dan berpikir untuk menetap. Seperti yang saya katakan di atas, au pair bisa menjadi batu loncatan menggapai mimpi dengan mencari ilmu, karir, atau jodoh di luar negeri. Tapi sebelum ketagihan dan terlalu lama menjadi au pair, membuat rencana yang matang sebagai jawaban dari "setelah ini ingin kemana?" itu harus, karena kehidupan au pair di satu tempat itu tidak lama, hanya 12 sampai 24 bulan saja.

Saya jadi au pair sampai 5 tahun lamanya juga bukan karena kebetulan. Bahkan kalau harus mengulang dari awal, saya mungkin akan mencoret Denmark dan langsung ke Norwegia untuk menjadi au pair dan meneruskan hidup sebagai mahasiswa. I would save 2 years of precious time in my life! Atau kemungkinan saya akan menyudahi petualangan di Denmark, mencoret Norwegia, lalu stay di Indonesia untuk bekerja di perusahaan multinasional.

Jangan takut untuk pulang dan meneruskan hidup di Indonesia jika Eropa memang bukan jalan yang tepat untuk meraih mimpi mu! In the end, hanya Indonesia yang masih mau menerima kembali jika Eropa tak lagi mengizinkan mu tinggal selama-lamanya (kuncinya, well-planned kalau memang ingin stay longer di negara impian since your "jalani saja" would bring you nowhere!).



Komentar

  1. Aku skrg lg aupair juga kak usiaku 25th rencana pgn cari kerja di jerman tapu bahasaku g lancar2 dan sekolah bahasa belum dimulai dan tidak ada kejelasan kapan bisa masuk. Kadang mgmg what the hell im doing here. Buntu rasanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekolah bahasanya gak pindah online kah? Sukses ya sama progress language skill kamu! Semoga nembus level B-Intermediate biar bisa cepet dapet kerja setelahnya.

      Been on your feet and stress sendiri kadang! But that’s what we chose 😩

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Program Au Pair Selama Pandemi

Estimasi Waktu Baca:
Tidak hanya satu dua orang pembaca blog yang tiba-tiba DM dan mengeluh betapa susahnya kesempatan mereka jadi au pair di kala pandemi ini. Ada juga yang bertanya apakah karena Korona, program au pair dihilangkan untuk sementara waktu. Satu orang calon au pair yang harusnya berangkat ke Eropa tahun ini, saya dengar aplikasi visanya masih tertahan di Indonesia karena kantor penyedia servis belum buka. First of all, I feel sorry for them. Karena pandemi global yang sampai detik ini belum menemukan titik terang, kita harus dihadapkan dengan  new normal yang sebetulnya juga tak normal. Kegiatan di luar rumah dibatasi, perbatasan imigrasi tertutup untuk orang Indonesia, serta banyaknya penundaan aktifitas fisik di sana-sini demi mengurangi penyebaran infeksi. Tentunya karena perubahan peraturan di semua wilayah di dunia, imbas paling besar terjadi di pintu perbatasan antara negara. Kita tidak bisa seenaknya jalan-jalan ke luar negeri seperti dulu apalagi ke negara bervisa seperti Eropa...

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

Estimasi Waktu Baca:
( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu...

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

Estimasi Waktu Baca:
"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa...

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

Estimasi Waktu Baca:
*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita teta...

Ayo Belajar Bahasa Asing!

Estimasi Waktu Baca:
Apa yang kalian lakukan di rumah saat sedang galau, bad mood , kesepian, ataupun bosan tiada tara? Nonton TV atau DVD? Dengar radio? Curhat sama teman? Jalan ke mal? Atau tidur-tiduran di kasur, pasang AC, sekalian BBMan sama someone ? Semuanya tidak ada yang salah. Semuanya bisa kita lakukan untuk membunuh rasa bosan dan jenuhnya rutinitas setiap hari. Tapi tahu apa yang biasanya saya lakukan saat sedang bosan dan malas sekali melakukan aktifitas di luar? BELAJAR BAHASA ASING! Lho kok, sedang bosan masih sempet-sempetnya belajar? Belajar bahasa asing pula! Bahasa Inggris aja belum lulus ini. Yuhuuu.. Entah kenapa daripada berkeluh kesah dan mikirin si doi yang belum tentu mikirin kita (duilee..curhat) saya lebih menikmati buku-buku traveling ataupun buka Youtube untuk belajar bahasa asing. Saya merasa selain kegiatan ini positif, pikiran juga teralihkan dari rasa bosan yang kadang membuat saya mau teriak sejadi-jadinya. Terus apa sih enaknya belajar bahasa asing...